Nadya Yolanda Aruhanindra Moeda
I travel, I observe, I tell stories.


wan•der•lust/wändərləst/
[noun] a strong desire to travel


Everything under the sun won't really kill me, because I treat the universe as a playground I enjoy to play with

Regarding to Postcard Giveaway

Dear wanderers, please!

I’d like to send you one blank postcard for free, but can you keep on track, reading thoroughly the rules I wrote to you? :)

I said yes, postcards from countries I have traveled to. And if you wonder those countries I have been to, it’s just a click away! 

Click "Places and Blog Posts" in left side of my blog. You’ll get the list of countries I’ve been to. Yes, I know I love to travel and wander but please, do not ask me a postcard from Africa or Fiji as I’ve never been there! 

Regards,

Naya Moeda 

Postcards Giveaway

image

Dear wanderers,

I’m happy it’s September already. The month of my birthday and my two greatest men’s birthdays.

September is also when we sum up our summer stories and get busy preparing nice-colored sweaters for the next season :) and since I’m so excited to face another lovely September, let me share this happiness to you as well!

For all of you who want a (blank) postcard from wherever I have traveled to, do not hesitate to contact me through the ‘Ask’ feature on this blog. 

I will send them for free to your doorstep! (Indonesia only

How?

1. Open http://nayamoeda.tumblr.com

2. If you browse via mobile site, click the lines button in top left side and select ‘Ask Me Anything’ option. But if you wander with your PC—which is better :p — you can click ‘Questions? Ask!’ button in the left side of the blog. 

3. Simply write your Name + Address + Phone Number and your desired country. But, bear in mind that not all postcards are always available upon your request (while supplies last), I will let you know before :) 

.

Happy wandering,

Naya Moeda

Santorini, the Lost Atlantis

image

For a sun-worshiper like me, white is a rainbow. Not because in fact white is a combination of seven colors gathered as one light, but because of its ability to perfectly radiate the shimmering reflection of the sun.

Since the day I stood in the whitewashed island of Santorini; I’ve learned that without white, a rainbow is just a broken cloud. 

.

.

One of the beautiful Greek Islands, Santorini is an Aegean volcanic arc and is a part of the Cyclades—along with the islands of Mykonos, Naxos, and Paros. The half moon crescent shaped Santorini—often called Caldera— is surrounded by smaller volcanic islands namely Thirassia, Nea Kameni and Palia Kameni.

.

Merupakan satu dari kepulauan Yunani, Santorini termasuk jajaran lengkung gunung berapi di Laut Aegea, juga merupakan bagian dari The Cyclades—bersama-sama dengan pulau-pulau lain seperti Mykonos, Naxos, dan Paros. Santorini yang memiliki bentuk unik serupa bulan sabit, yang biasa disebut Caldera ini, dikelilingi oleh pulau-pulau vulkanik yang lebih kecil seperti Thirassia, Nea Kameni dan Palia Kameni.

.

.

DAY 1 : WANDER AROUND

First day in Santorini, I woke up with smile on my face as I couldn’t believe I was finally there! 

Those sugar-cube houses here and there, the beauty of Santorini also offered me shades of blue. Even a mere mention of its name, Santorini, evokes images of light blue sky, azure domes, emerald blue sea. That moment we did not bother taking any daily tour, we just wanted to bask in this bluish atmosphere. 

We went to Imerovigli, the area that built in the highest point of Santorini. One of the latest trends is to stay here and take its paradisiacal setting for wedding or honeymoon.

.

Hari pertama di Santorini, rasanya seperti sedang bermimpi karena akhirnya saya sampai juga di pulau ini!

Jajaran bangunan berbentuk unik bak gula batu, belum lagi variasi paduan warna biru di sekelilingnya. Bahkan dari namanya saja, Santorini, kita bisa membayangkan tiap detil keindahan yang ditawarkan; langit biru cerah, kubah berparas biru angkasa, dengan air laut bernuansa biru zamrud. Hari itu kami hanya bereksplorasi secara mandiri, tanpa jasa sana sini, kami hanya ingin menikmati birunya Santorini.

Kami mengunjungi Imerovigli, sebuah area yang berada pada titik tertinggi di Santorini. Tempat ini terbilang tenang, sehingga banyak yang mengambil lokasi ini untuk pesta pernikahan atau sekedar berbulan madu.

image

image

image

image

.

Then walked down to Fira, the capital city of Santorini. Fira is home to huge variety of foods, tavernas, bars, and shops; and by contrast, nightlife in Fira is exceptionally lively.

.

Tak lama kemudian, kami berjalan menuju Fira, ibu kota Santorini. Fira merupakan area terpadat Santorini dan di sinilah kami menjumpai banyak pilihan kuliner, cafe, bar, dan pusat-pusat perbelanjaan; walaupun jaraknya cukup dekat dengan Imerovigli yang tenang, namun hiruk-pikuk Fira membuat kehidupan malam di sini lebih gemerlap

image

image

image

.

.

DAY 2 : SAIL AWAY

Is it any surprise that we could not expect Santorini for having many choices of public transportation? Most of the tourists who want to be out and about all day long prefer to take taxi or rent a car/motorcycle. Or else, perhaps it’s just a friendly reminder for us to sail away. 

I know, Santorini may be the primary tourist attraction in the Greek Islands but visits to the lesser known surrounding volcanic islands of Nea Kameni, Palia Kameni and Thirassia complement the whole tour.

We decided to take islands hopping daily tour! Nea Kameni was our first stop and we climbed the volcano a bit.

.

Ditinjau dari segi tujuan wisata, mungkin agak sedikit mengagetkan bahwa Santorini tidak memiliki banyak pilihan transportasi umum. Kebanyakan, para turis yang hendak menjelajah Santorini memilih untuk menggunakan taksi atau menyewa mobil / motor. Namun justru dengan minimnya pilihan transportasi umum inilah banyak pula turis yang tertantang untuk berlayar ke pulau-pulau kecil di seberang sana.

Memang benar bahwa Santorini boleh dikatakan sebagai tujuan wisata yang paling banyak digemari diantara jajaran kepulauan Yunani, namun, mengunjungi beberapa pulau kecil di sekelilingnya seperti Nea Kameni, Palia Kameni dan Thirassia, justru akan menambah petualangan di pulau ini.

Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa tour harian untuk berkunjung ke pulau-pulau vulkanik tersebut! Nea Kameni adalah pemberhentian pertama kami, dan untuk menjelajah bukit volkano ini kami harus mendaki cukup jauh

image

image

image

.View from Nea Kameni

.

.

image

image

Second stop: Palia Kameni

Palia Kameni is another volcanic island located between The Caldera. I warn you, it might be quite impossible to resist the temptation not to swim in its hot spring.

Permberhentian kedua adalah Palia Kameni. Pulau vulkanik kecil ini masih terletak di jajaran Caldera Santorini. Jangan lupa untuk meluangkan waktu berenang menikmati air panasnya 

.

.

image

image

image

Set sail for the island of Thirassia. Fresh seafood for lunch is always a good idea.

Berlayar menuju pulau Thirassia. Tidak terlalu banyak yang kami lakukan di sini, hanya saja, makan siang dengan hidangan laut segar di Thirassia tidak boleh dilewatkan

.

.

image

image

image

image

After having perfect lunch, the boat sailed on to Oia Village (pronounced “Ia”)

As I stepped on its ground I could not take my eyes away from the beautiful whitewashed village that carved out of the cliff. I marveled at the amazing view that sits on the northern tip of the island as I looked up from the path down below.

It is said that to reach Oia Village we can use cable car, by donkey or on foot. We were looking for the cable car and found nothing, we should have known before that the exact point to take cable car is in Fira instead……..so sad! And even we’re not certain we would do it again in the future but we decided to ride a donkey. Okay I’m not telling you not to take a walk but I’m just giving you a heads up not to expect that kind of wide-path-without-donkeys 

.

Setelah puas bersantap siang di Thirassia, kapal merapat ke Desa Oia (dibaca “Ia”)

Begitu pijakan kaki pertama saya menyentuh tanah Oia, mata saya tidak dapat terlepas dari desa yang penuh dengan bangunan putih di sana sini yang seolah-olah terukir dari pucuk tebing. Saya terkagum-kagum akan pemandangan indah yang berdiri kokoh di ujung utara Santorini. Rasanya sulit untuk melepaskan pandangan dari bawah sini.

Untuk mencapai Oia, kita bisa menggunakan kereta gantung, menunggang keledai atau berjalan kaki. Semula kami mencari kereta gantung namun kami tidak menemukannya sama sekali, barulah akhirnya kami tahu bahwa kereta gantung dapat ditemukan di Fira. Walapun terasa kurang nyaman, pada akhirnya kami memutuskan untuk menyewa keledai dari titik terbawah Oia menuju ke atas. Jalanan yang sedikit menanjak dengan ratusan anak tangga yang menghadang belum lagi harus berbagi bahu jalan dengan keledai-keledai, membuat kami mengurungkan niat kami berjalanan hingga atas.

image

image

image

Oia is no doubt the most picturesque area in Santorini and is famous for its golden sunset. However I felt quite disappointed of myself for the lack of information I’ve gained before; that Oia Village would become crowded during the golden hour (last few hours preceding sunset). In a climate where most people were competing for perfect spot for sunset (especially at the sunset point in the west side—see photo above), we tried to find perfect cafe with sunset view, in which, later did I find out it was the best idea so far.

As the food can also be the main point in Oia beside the sunset, we recommend these two out of hundreds of beautiful cafes with the tasteful decoration and their perfect locations in Oia, Santorini:

  • Kastro Restaurant (the best one if I might say! Perfect terrace overlooking the sunset. Make sure you’ve made your reservation before
  • Meteor Cafe (no terrace, but the window view is nice. Perfect little cafe for quick bite and chit chat)

.

Selain amat terkenal dengan pemandangan sunset-nya, Oia memang merupakan area yang paling indah dan banyak digemari di Santorini. Karena itulah saya merasa sedikit kecewa dan menyesal dengan informasi yang saya dapat sebelum mengunjungi Santorini, bahwa Oia akan mulai dibanjiri oleh para turis bahkan semenjak beberapa jam sebelum sunset. Rasanya untuk berjalan dari satu titik ke titik lain amat membingungkan dengan banyaknya orang yang berlalu lalang tak tentu arah. Maka dari itu, ketika para turis berbondong-bondong memadati sunset point di sayap kanan (lihat foto di atas), kami justru mencari cafe atau restauran yang menawarkan pemandangan sunset yang indah.

Sebenarnya kemenarikkan Oia tidak melulu soal sunset, namun juga seputar makanan dan kuliner. Ada banyak sekali cafe dan restauran dengan dekorasi mengagumkan serta menawarkan pemandangan indah di Oia, Santorini. Dua diantaranya yang patut kami rekomendasikan adalah:

  • Kastro Restaurant (Menawarkan teras dengan pemandangan sunset dan caldera. Sempurna! Jangan lupa untuk reservasi sebelumnya)
  • Meteor Cafe (Cafe kecil nan mungil ini tidak menawarkan teras dengan pemandangan sunset, namun cafe ini menawarkan pemandangan indah dari jendelanya)

image

OMG….. GOLDEN SUNSET IN OIA, SANTORINI!!!!! FINALLY!!!!

.

.

DAY 3 : CHILL OUT

Honestly I am not that kind of person who spends as little as possible on accommodation while traveling just to simply ensure that I am able to scrape up enough amount of money for flights or food. Well I did sometimes but chances are, it was a cheap-but-neat kind of accommodation. Comfort is still number one for me, while cheap price is a perfect bonus. But  then it also appears as a dilemma that I personally can’t see the point of shelling out a luxurious hotel while on a vacation.

Thank God I’ve finally found comfort and affordable price (all at once!) in this white painted studio where we spent half day to chill and chat with its creative owner in our last day in Santorini!

Situated in front of black pebbled beach of Kamari (lower point of Santorini), we stayed in Sunrise Studio for three nights. Sophia, the owner is very friendly and nice. She decorated every single detail of the studio and the design is somewhat constantly improved from time to time. 

.

Pada dasarnya saya bukanlah seseorang yang sengaja mengeluarkan uang dengan jumlah sekecil mungkin demi menyisakan sebagian uang saya untuk tiket pesawat dan makanan. Saya pernah beberapa kali melakukannya namun sebagai seseorang yang mengedepankan kenyamanan, harga yang murah tersebut hendaknya bukan sebagai alasan untuk mengurangi kualitas akomodasi. Namun di lain sisi, saya bukan pula seseorang yang mau begitu saja menghabiskan uang semata-mata untuk sebuah kamar di hotel mewah saat traveling.

Kabar baiknya, saya menemukan penginapan ideal selama di Santorini, yang membuat saya betah menghabiskan setengah hari berbincang dengan si empunya penginapan 

Terletak di kawasan pantai berbatu hitam, Kamari (area bawah Santorini), kami menginap di Sunrise Studio selama tiga malam. Sang empunya, Sophia, adalah seorang wanita yang ramah dan dengan segala kreatifitasnya beliau sendiri lah yang mendekor dan memperbarui desain studio ini.

image

image

image

image

image

SUNRISE STUDIO

Kamari, Santorini

84700 Greece

Email   : info@santorini-sunrise.com

Phone : +306972394984

The Jakarta Globe, August 2013

image

The Jakarta Globe, 31st August 2013

.

Time flies too fast. It’s almost been a year since the last time I had my article about traveling got published on media. I know it’s too late to post it here but it’s better than not at all.

And if by any chance you wonder about which article of mine that got published, you can read it here, simply click: “Nepal and the Himalayan Footstepsand click here for a simple guide on my previous traveling experience to Nepal: "Nepal and the Himalayan Footsteps (part. II)"

Q: hi Naya apa kabar? baru inget kalau kamu kemarin ke Nepal, aku kebetulan ada rencana akhir tahun ini kesana kemarin kamu total berapa hari trip ke Nepal Nay? boleh minta itinerary lengkapnya kah? thanks :)

A:

halo! :) maaf ya baru bales. baik, kamu apa kabar? :D  aku tahun 2013 ke Nepal 10 hari udah termasuk pendakian di Annapurna-Himalayan range (4-5 hari), untuk itinerary dan further questions ke email aku aja ya! 

Best Travel Memories of 2013

Everest Region, Nepal (May, 2013)

.

Flew over the highest peak on earth!

.

.

Dead Sea, Jordan (September, 2013)

.

Floated on the lowest point on earth!


Anonymous

Q: hello pretty Naya, this is Thomas, still remember me? yang minta alamat blog kamu di Penvill, waktu acara books and beyond! I adore you in person and your blog. I loved the way you interact with the audience waktu interview itu. Beneran hehe! Bytheway, from countries you have visited which one do you think the best? Jangan bingung ya :)

A:

Oh hi Thomas apa kabar? Wah thank you, glad to hear that from you :D Best countries I’ve visited? Until the second I answer this, for natural beauty, I prefer Turkey (especially Cappadocia). For city view, of course Australia (how I love Sydney!) But this is just my personal preference. Boleh tanya ke yang traveling lebih sering dan banyak untuk opini lain. 

Bara & Bira: Twins from the South

image

No two things are exactly the same, so are the twins. Like Bara and Bira. Bara with its playfulness, excitement, and shyness , while Bira with its maturity, romanticism, and popularity.

However, together, they become one perfect thing: beauty.

.

Tidak ada dua hal yang benar-benar sama, bahkan pada hal-hal yang serupa atau kembar. Bara dan Bira adalah contoh yang nyata. Bara dengan keasikannya, semangatnya, walaupun tersembunyi malu-malu. Bira dengan kematangannya, romantisme suasananya, serta popularitasnya.

Namun dengan segala perbedaan yang melekat di keduanya, Bara dan Bira menjadi satu padu dalam keindahan

.

.

I. PLAYFUL BARA

Bulukumba is the name of the regency in South Sulawesi, Indonesia, where Bara and Bira (beaches) are located in, about six-hour drive from Makassar (Ujung Pandang).

It was in the midnight, when most people managed to get their blankets instead, we had just arrived in Makassar from Jakarta. As it might take us approximately 6 hours to reach Bulukumba from Makassar, it’s a sure thing that we did not even care that this night trip could negatively affect our quality of sleep or being sleep deprived (oh, we’re on a vacation anyway!). Worse still, there were no more public transportation at that very time!!

But then again, you may call me reckless but not when on a vacation. This thing had been predicted before, that’s the main reason we chose to rent a car from Makassar to Bulukumba 

Access from Makassar to Bulukumba

  • Rent a car with the driver that later would go back to Makassar after taking us to Bulukumba, price range: IDR 425,000.-  until  IDR 500,000.- per car & return (for the driver)

Biaya sewa mobil dengan supir (hanya layanan antar sampai

          Bulukumba, kisaran harga: IDR 425,000.- s/d IDR 500,000.- 

          per mobil

  • Fuel, price range: IDR 200,000.- until IDR 250,000.-

Biaya bensin, kisaran harga: IDR 200,000.- s/d IDR 250,000.-

Contact details:

Jaya Rental Car Makassar   : +6282 1434 179 99 (Jaya)

(note that public transportation are available only from morning until 10 pm) 

(untuk menghemat biaya perjalanan, tersedia tranportasi publik yang beroperasi dari pagi hingga pukul 10 malam)

image

Bara dan Bira adalah nama dari dua pantai yang terletak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Untuk mencapai Bulukumba, kira-kira dibutuhkan perjalanan darat selama 6 jam dari Makassar (Ujung Pandang).

Kami tiba di Makassar dari Jakarta pada tengah malam, ketika sebagian besar orang telah beranjak tidur dan mulai terlelap. Perjalanan yang harus kami tempuh masih cukup panjang dan hal itu memaksa kami untuk tidak mempedulikan rasa kantuk yang menyerang. Belum lagi, tidak ada transportasi umum yang beroperasi pada waktu selarut itu!!

Untungnya, hal ini telah saya prediksi sebelumnya. Maka dari itu, kami memilih untuk menggunakan jasa rental mobil untuk layanan antar-jemput antara Makassar-Bulukumba dan kemudian Bulukumba-Makassar

.

Where to stay in Bara

Bara Beach Bungalows (per bungalow per night) : IDR 750,000,- (November 2013). one bungalow can accommodate a maximum of three persons at a time. (click here for currency converter) 

Bara Beach Bungalows (per bungalow per malam): IDR 750,000.- (November 2013). satu bungalow maksimal menampung tiga orang.

Contact details:

Address       : Jalan Poros Bara, Tanjung Bira

                      Sulawesi Selatan - Indonesia 

Website       : www.bara-beach.com

Email            : info@bara-beach.com

Phone          : +62 822 9181 68 72 (Stefan Reinhard) 

image

image

The rooms were quite clean, the breakfasts were nice, the owners were friendly. They even took us to Bira later on and even went snorkeling with us.

But amongst all, what makes Bara Beach Bungalows perfect, is its direct access to the private, calm beach. If you want to be served in search of quiet relaxation in a peaceful beach with fine white sand and with no one bothering what you wear (the things you won’t find in Bira Beach), Bara Beach is the right answer.

.

Kamar-kamar bungalow ini cukup bersih, sarapan termasuk fasilitas di dalamnya dan rasanya juga lezat, bahkan sang pemilik penginapan ini sangat ramah dan suka berbincnag dengan para tamunya. Mereka juga mengantar kami ke Bira serta ikut snorkeling bersama kami.

Namun, yang membuat Bara Beach Bungalows amat berkesan ialah penginapan ini menyediakan akses langsung ke pantai! Karena pantai Bara memang sangat tenang dan sepi, pantai ini seolah merupakan pantai pribadi kami. Bara memang cocok bagi mereka yang mencari ketenangan dan relaksasi dengan pasir putih yang lembut serta tidak ada batasan dalam berpakaian (hal ini tidak mungkin ditemui di Pantai Bira)

image

.

Snorkeling in Bara

  •  Rent a boat, price range: IDR 300,000.- until IDR 400,000.- (November 2013)

Kisaran biaya sewa perahu: IDR 300,000.- s/d IDR 400,000.-

           (November 2013)

  • Rent the snorkel gears, price range: IDR 25,000.- until IDR 50,000.- per item per person (November 2013)

          *click here for currency converter

Sewa perlengakapan snorkeling, kisaran harga: IDR 25,000.- 

          s/d IDR 50,000.- per item per orang (November 2013)

image

image

Halooooo, we’re soooo ready for snorkeling :) :) :)

.

image

image

image

image

image

.

Had a stop in Liukang Island for a lunch before going back to the bungalows by boat. Anyway other than Liukang Island, there are  still plenty of islands to choose from

Kami berhenti sejenak di Pulau Liukang untuk makan siang. Sebenarnya banyak pilihan pulau yang bisa kita tentukan sebelum snorkeling, untuk bersantai sejenak

image

image

.

.

.

II. BETWEEN BARA AND BIRA: BERU

What’s in between should not be forgotten. We were aware that we stood between two undeniable charms of South Sulwaesi, however, historical ages and stories about Phinisi are the path that lead to the present and the future of beautiful South Sulawesi.

So why not visiting Tana Beru, the dock where we could watch and get to know the making of local masterpiece, traditional ship called Phinisi!

We went to Tana Beru on our way to Bira from Bara.You only need to step closer to the dock, get along with the locals and watch the Phinisi making process carefully to see Tana Beru is going to be a special place to visit. In case you wonder about the history, you can read it here

.

Apa yang berada di antara, tidak boleh terlupa untuk dikunjungi. Kami tahu bahwa Bara dan Bira merupakan dua pesona Sulawesi Selatan, akan tetapi, masa-masa emas sejarah dan cerita di dalamnya tentang Kapal Phinisi adalah masa-masa yang turut andil dalam menjadikan Sulawesi Selatan masa kini dan masa yang akan datang.

Maka, mengapa tidak mencoba mengunjungi dermaga Tana Beru, untuk melihat lebih jelas proses pembuatan Phinisi, sebuah mahakarya nusantara berupa kapal tradisional.

Kami mengunjungi Tana Beru dalam perjalanan kami menuju Bira, dari Bara. Hanya dengan mengunjungi dermaga ini, bercakap dengan penduduknya serta menyaksikan langsung proses pembuatan kapal Phinisi, kami sepakat bahwa dermaga Tana Beru tidak kalah istimewa untuk dikunjungi. Baca tentang Kapal Phinisi di sini 

image

image

image

image

.

.

.

III. ROMANTIC BIRA

Even though Bara and Bira must not be the only reason for visiting South Sulawesi, but these two popular beaches are by far its most desirable physical assets to visit. 

Nevertheless, never expect Bira Beach will be as calm and relaxing as Bara Beach. Just never. A crowded beach of Bira naturally  required visitors to dress properly, by proper, means there is no way for you to wear your favorite swimwear or to show off your bikini body since it could draw extra attention to yourself. Yes, there’s an unwritten rule of standard clothing restriction in Bira Beach.

.

Walaupun tidak semestinya Bara dan Bira menjadi alasan terkuat untuk mengunjungi Sulawesi Selatan, tidak bisa dipungkiri bahwa kedua pantai ini merupakan aset fisik Sulawesi Selatan yang paling diminati saat ini.

Namun, jangan harap bahwa Pantai Bira memiliki ketenangan yang sama dengan Pantai Bara, jangan pernah berharap demikian! Pantai Bira merupakan sebuah pantai yang padat pengunjung, dimana para pengunjung disarankan untuk berpakaian tidak terbuka. Ada peraturan tidak tertulis mengenai batasan dalam berpakaian di Pantai Bira. 

image

.

Where to stay in Bira

Amatoa Resort (Family Room per night): IDR 2,500,000.- (November 2013). Family Room is able to accommodate up to six persons at a time. Lower rates may apply to Standard Rooms adn Suite Rooms

Amatoa Resort (Family Room per malam): IDR 2,500,000.- (November 2013). Family Room dapat menampung hingga enam orang. Untuk harga yang lebih rendah, Standard Rooms atau Suite Rooms dapat menjadi pilihan

Contact details :

Address        : Jalan Pasir Putih 6, Bulukumba Bira

                       Sulawesi Selatan - Indonesia 

Website         : www.amatoaresort.com 

Email             : info@amatoaresort.com

Phone           : +628 234 881 9119 (Office)

                       +628 533 354 8369 (Melisa)

image

.

Staycation in Amatoa Resort

Walking in the seashore is my favoured way to explore a beach, but to stay in a romantic room that built on the sea cliff, facing the blue of the sea made me bend my rule for a while.

What disappointed me that time after the crowded beach of Bira, was just the fact that this resort has no direct access to the beach :(  Yet, to compensate it, we’re glad that this resort provides a wooden stair for us to jump to the sea! Woohoooo! Plus, the pool was soooooo great that we did not want to stop swimming.

.

Berjalan di tepi pantai adalah cara saya menikmati keindahan birunya laut, tetapi kali ini dengan menghabiskan waktu di sebuah ruangan yang terkesan romantis yang dibangun di atas tebing laut menghadap ke cantiknya pemadangan yang biru, membuat saya mengurungkan niat saya untuk menyusuri pantainya. 

Ini dikarenakan, setelah kecewa dengan suasana Pantai Bira yang tidak setenang Pantai Bara, kami baru mengetahui bahwa resort ini tidak memiliki akses langsung ke pantai seperti penginapan kami sebelumnya :( akan tetapi semua kekecewaan itu terobati saat kami mengetahui bahwa resort ini menyediakan tangga kayu untuk akses berenang di laut! Ditambah lagi, resort ini memiliki kolam renang yang indah, yang membuat kami betah berlama-lama!

image

image

image

image

image

image

image

.

Hi, do not forget to take plenty of pictures in the resort! The tropical decoration of the resort is very beautiful and perfect for picture. Oh, girls will be girls :p :p :p

.

Resort ini memiliki dekorasi tropikal yang sangat cantk dan unik. Maka, jangan lupa untuk berfoto di sekitarnya ya :p

image

.

Dinner at D’perahu

It was no time to be thinking about where to have a perfect dinner because we had no greater place to dine like D’perahu had to offer. Some said the food is good and that’s all, but what we needed was a perfect atmosphere. So, here we came.. had a dinner at the ship-shaped restaurant!

.

Tidak ada lagi waktu untuk berpikir panjang untuk menentukan tempat makan malam kala itu. Kami telah berencana makan malam di D’perahu, sebuah tempat makan unik yang berbentuk seperti kapal. Beberapa orang berangapan bahwa menu yang ditawarkan tidak senikmat yang kita bayangkan. Tetapi sudahlah, toh kami memang mencari atmosfer yang sempurna :)

.

We walked to D’perahu Restaurant all the way from our resort just to see this bluish sunset. Rare and priceless. 

Kami menuju restauran D’perahu dengan berjalan kaki dari resort dan menyaksikan matahari terbenam dalam langit kebiruan. 

image

image

image

image

.

.

AVERAGE COST OF BARA BIRA TRIP ( 3 Days, 2 Nights - NOVEMBER 2013)

There were five of us so I would calculate the total expenditures and the breakdown-into-five version, as follows (without airfare price, meals, and daily allowance):

  • Rent a car: IDR 426,000.- x 2 (Makassar - Bara in the first day, Bira - Makassar in the last day) :

          * IDR 852,000.- (per group), IDR 170,000.- (per person)

  • Fuel for the car: IDR 250,000.- x 2 (Makassar - Bara in the first day, Bira - Makassar in the last day) :

          * IDR 500,000.- (per group), IDR 100,000.- (per person)

  • A night at the Bara Beach Bungalows: IDR 750,000.- x 2 rooms (for five of us, evenly divided into five, later) :

          * IDR 1,500,000.- (per group), IDR 300,000.- (per person)

  • Rent a boat for snorkeling:

          * IDR 300,000.- (per group), IDR 60,000.- (per person)

  • Snorkeling gears ( two items per person @ IDR 25,000.-) :

          * IDR 250,000.- (per group), IDR 50,000.- (per person)

  • A night at the Amatoa Resort (Family Room): IDR 2,500,000.- (for five of us, evenly divided into five) :

          * IDR 2,500,000.- (per group), IDR 500,000.- (per person)

.

TOTAL (per group)     : IDR 5,902,000.-

TOTAL (per person)   : IDR 1,118,000.-

(click here for currency converter)

.

      *Harga di atas tidak termasuk tiket pesawat, uang makan dan uang saku pribadi*

Foodnote: Motel Mexicola - Bali, Indonesia

Hola, Amigos!

It’s indeed my very first attempt at writing a post about that one thing traveling can’t be separated from. Yes, it’s about culinary, food, taste-bud orgasm, you name it!

However (okay, such polite word to start a not-so-good-news), I was captivated by the design of the restaurant more, that I forgot to write you the details about dishes we ordered HAHA.

Well, you might later find any other upcoming culinary-related posts with its eye-catching restaurant design flooding the page more than the food review itself ;P . Oh, but I will push my full effort for that to not become something habitual but please pardon me for this. For my very first time (trying to) writing a culinary-related post.

So, enjoy the meals, oops… I mean, the photos! :p

.

"MOTEL MEXICOLA" (Mexican cuisine)

Jalan Kayujati no. 9, Petitenget Beach, Seminyak

Bali - Indonesia

+62 361 736688

www.motelmexicolabali.com

.

Food             : Very Good

Atmosphere  : Excellent

Service         : Good

.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

.

image

Hi, meet me and my two pretty cousins (left and center)! ;)

.

.


Anonymous

Q: Halo Nadya :) I really really love your blog! Selalu ingin menjelajahi dunia seperti kamu. Mau tanya sekalian bagi tips dong tiap kali kamu traveling, apakah kamu sudah menyiapkan budget dari jauh-jauh hari, atau memang sudah punya savings pribadi khusus utk traveling, atau memang sangat beruntung memiliki keluarga yang hobi traveling? kesulitanku sih lebih sering di budget dan waktu yg enak huhu.. Btw, keep writing, yours are so inspiring!!

A:

Halo, Anon! Terima kasih udah mampir ke sini, seneng baca messagemu :) iya, savings pasti ada, tapi kemungkinannya cuma dua: cukup ATAU dipaksa cukup hehe. Kalau pas lagi cukup sih tenang-tenang aja. Untuk kondisi kedua (dipaksa cukup), demi nge-cut budget aku biasanya pilih hostel (klik: hostelworld atau hostelbookers, pilih yang tipe dorm) atau couchsurf (klik: CouchSurf) plus bawa snack dari rumah. Kalau mau lebih hemat lagi, coba ditelusuri lagi deh apakah ada teman atau saudara dekat/jauh di tempat tujuan. Hope it helps. Happy traveling, ya! :D