Nadya Yolanda Aruhanindra Moeda
I travel, I observe, I tell stories.


wan•der•lust/wändərləst/
[noun] a strong desire to travel .

Somewhere Beyond the Sea

.


Jakarta, Oktober 1986


Teruntuk penerusku yang kelahirannya bahkan belum kami rencanakan.

Nak, suatu hari nanti ketika gerbang renta itu berdiri di depan kami, kami akan berhenti di sini dan membiarkanmu berjalan-jalan sendiri. Kamu tidak akan diam, aku tidak akan membiarkanmu diam. Kelak kakimu ramping namun cukup kuat untuk mematahkan ranting yang berserakan di hutan beringin, matamu melihat dunia,hatimu harus seluas samudera yang pernah kakekmu arungi, jaga hatimu jangan setinggi gunung yang pernah aku daki karena kelak aku tahu bahwa ayahku—pelaut keriput itu, yang akan lebih layak menjadi idolamu.

Nak, laut akan menjadi kawanmu. Laut akan menjadi namamu, Aru. Angin laut kurang baik untuk paru-parumu, tidak, aku tidak melarangmu. Hanya saja pesanku, jangan menghisap cerutu sedalam caraku, sehingga nantinya paru-parumu sedikit lebih aman di tengah laut lepas dalam hening malam sekalipun. Sekali lagi, tirulah idolamu. Ayahku.

Nak, sampai waktunya dirimu aku bebaskan nanti, turuti dulu apa yang aku dan wanita bijak yang berdiri di sebelahku ini perintahkan. Mengapa ia? Karena ia, yang air susunya akan menjadi titik awal hidupmu. Karena ia, yang air matanya meluluhkan kejiku. Karena ia, yang bersamaku menyusuri berkubik air laut menuju negeri seberang kala itu.

Walaupun ia, yang kamu sebut bukan cinta matiku.

-Ayahmu-

image

image

Negeri seberang itu, suatu hari nanti akan aku bawa kamu dan wanita ini, kembali ke sana…

image

image

Sydney, Australia (1986) pictures were mostly taken by my uncle’s friend

.

Jakarta, Mei 2012

Bagaimana, Nak? Apakah negeri itu masih seindah delapan belas tahun silam ketika aku mengajakmu dan wanita itu sejenak menetap di sana?

Oh iya wanita itu, ibumu, bagaimana kabarnya? Sehat-sehat saja, bukan?

-Ayahmu-

Sydney, Australia (May, 2012)

  1. justhityou said: cute :”)
  2. nayamoeda posted this